Tampilkan postingan dengan label HPC 'reative. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HPC 'reative. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Mei 2012

HPC 'REACTIVE "KEAJAIBAN NYATA UNTUK EMMA"

Hai...Hai.. HPC 'REACTIVE hadir lagi.. FF kalini EMMA WATSON SPECIAL EDITION yg berjudul "KEAJAIBAN NYATA UNTUK EMMA",, yg dibuat dg imajinasi yg luar biasa oleh Lavender Brown (Kusumaa Riey Potterfreaks).. Selamat Membaca........

--oOo--oOo--oOo--oOo--oOo--

KEAJAIBAN NYATA UNTUK EMMA authored by Lavender Brown

Emma Watson artis remaja Hollywood pemeran Hermione Granger dalam film Harry Potter ini begitu multi-talenta dan sangat cantik, tidak heran banyak yang mengagumi. Di luar kegiatannya berperan sebagai Hermione Granger dia tetap seorang pelajar biasa. Tidak jauh berbeda dengan karakter yang diperankannya, Hermione, Emma mengutamakan pendidikan dan sangat pintar dalam hal itu. Namun dia juga tidak dapat memungkiri tentang betapa hebatnya cerita dalam film yang ia perankan ini, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban dan juga Jumper merupakan film yg sangat dia gemari.

   Satu hari dibulan April, Emma sedang menonton film favoritnya Harry Potter di rumahnya Paris, Prancis. Dia begitu geli melihat aksinya sendiri di film itu. Kali ini ia sedang menikmati break syutingnya selama satu hari dan ia lebih memilih bersantai di rumah. Sore menjelang, Emma begitu puas telah menonton film-film kesukaannya. Selesai menonton, ia menuju kolam renang yang masih ada di dalam rumahnya yg begitu besar. Karena memang musim yg sedang cerah dan panas sehingga membuat Emma ingin cepat-cepat masuk ke dalam kolam dan membenamkan dirinya di sana, sesekali dia berenang mengitari kolamnya. Tiba tiba, "blug,blug" air didalam kolam berbunyi, aki Emma tiba-tiba saja kram, itu membuat Emma kesakitan dan hampir tenggelam, air di kolam itu terus mengeluarkan suara 'blug,blug,blug" yg menandakan bahwa Emma panik saat itu. Ia sama sekali tidak bisa bernapas. Sembari  menahan sakit di kakinya, tangannya mencoba menggapai di udara bermaksud memberikan isyarat agar adiknya Alex—yang kebetulan saat itu sedang berada di rumah bersama Emma—menolongnya. Tapi tetap saja isyarat itu tak akan membangunkan Alex yang sedang tertidur pulas di sofa ruang tamu.

Lima menit berlalu dan Emma tak dapat menahan nafas lagi ditambah kakinya masih begitu sakit. Sayup-sayup Emma mendengar suara yang tidak begitu jelas memanggil-manggil namanya "Emma…Emma…anakku," nampaknya itu suara ibu Emma yg kebetulan telah pulang dari tempatnya bekerja bersama ayah Emma. "Emm..." Belum sempat suara ibunya selesai menyebut namanya. Tiba-tiba Emma telah menghilang dari kolam itu, ibunya terkejut dan menangis melihat kejadian yang sangat aneh itu.

--oOo--oOo--oOo--oOo--oOo--

Emma tiba di tempat lain, merasakan keanehan terjadi pada dirinya, dia merasa dia bisa melompat dari kolam ke daratan.

"Hei, apa ini?? Apa aku gila?" Emma berbisik sendiri dalam keadaannya yg basah kuyup. Emma memandangi dirinya sendiri dan berpikir "Apa yg terjadi ini, ini tidak masuk akal." Emma seakan tersentak mengingat satu hal "Jangan...jangan..Jumper?? Oh Tuhan aku tak percaya jika kemampuan Jumper itu benar-benar ada. Bodohnya aku kenapa aku harus memikirkan hal itu. Itu kan hanya film yg sudah 7 kali aku tonton." Emma tetap saja berguman sendiri tanpa menyadari bahwa di tempatnya berdiri banyak orang berlalu lalang sambil memperhatikan dirinya yang terlihat seperti orang gila. Emma melihat kesekeliling dan kembali terheran-heran "Aneh, sepertinya aku mengenal tempat ini?" Dia masih saja bertanya dalam hatinya walaupun tak akan ada pernah ada yg menjawab pertanyaannya kecuali dirinya sendiri yg mengetahui. "ahh, di mana sih aku." Gerutunya.

Tiba-tiba ada seorang anak remaja berambut pirang dan tampan menghampiri Emma "Owh lihat Mud-blood ini, uuh, aku semakin jijik melihat penampilanmu yg seperti ini." anak laki-laki yang bernama Malfoy itu mencibir Emma.

"Tom Felton!! Kau memanggilku apa tadi, mud-blood?? Heh, kenapa kau juga ada di sini?? Ayolah apakah kita harus syuting hari ini?" sejenak Emma melupakan kejadian tadi dan membalas cibiran Malfoy yang ia sangka adalah Tom Felton dengan santai dan penuh canda.

"Kau gila, Granger"

"Ayolah bos, darah lumpur ini memang sudah gila dari dulu" Crabbe, salah satu teman Malfoy, menarik tangan Malfoy dan mengajaknya segera pergi. Malvoy melirik Emma dengan tatapan keheranan, ia menoleh ke tempat dimana Emma berdiri sambil terus berjalan dan tetap memasang tampang herannya melihat tingkah Emma yang dia kira adalah Hermione Granger.

Selang beberapa menit seorang anak berwajah bundar menyapa Emma sambil membawa beberapa tanaman gaib, yup Neville Longbottom "Ayo Mione kereta segera berangkat, tapi nampaknya kau perlu ganti baju." Neville melirik ke pakaian yang dikenakan Emma kemudian tersenyum dan kembali berjalan menuju kereta bernomor 5972.

"Darah lumpur?? Mione?? Mereka aneh atau aku yg gila?" saat ia berkata sendiri, Emma mendengar seorang anak laki-laki berambut merah berbicara dengan temannya "Aku baru ingat, 2 tahun yang lalu kita tidak bisa lewat sini untuk sampai di Stasiun King's Cross peron 9 3/4, bahkan kita bisa sampai ke sekolah dengan keadaan yang sangat kacau. Itu sangat lucu menurutku." Ron,anak laki-laki itu berbicara dengan temannya siapa lagi kalau bukan Harry Potter.

"Yeah, untung kita bisa selamat dari dedalu perkasa yang membuat kita semakin kacau itu."sahut Harry sambil tertawa.

Mendengar ucapan itu Emma kaget dan mengira bahwa itu suara Rupert dan Daniel, temannya yg berperan dalam satu film dengan dirinya. Ia mengira ini adalah sebuah lelucon untuknya. Namun sebelum ia menyadari ia sedang benar-benar berada di dunia sihir yang nyata, Ron, anak laki-laki td menyapa Emma dengan kaget penuh ejekan "Mione, kau tampak cantik seperti ini, kemana seragammu. Apa kau sedang tidak waras?" Emma mengabaikan sapaan itu, ia diam sejenak dan sekarang barulah ia menyadari hal-hal aneh yang terjadi pada dirinya seperti nyata. Ia berkata dalam hati "Sepertinya ini bukan sandiwara dan juga bukan mimpi."

"Hermione, apa yg sedang kau lakukan, kau tdk menjawab pertanyaan Ron?" Harry, teman Ron tadi mengagetkan Emma.

"Oh,oh maaf" Emma sedikit terkejut.

"Bisakah kau cubitku?" pinta Emma pada Ron dan Harry sambil menjulurkan tangannya.

"What? Hmm..oke, oke." Ron menjawab dan refleks saja dia langsung mencubit Emma.

"Auww,sakiiitt" raung emma kesakitan.

"Kau yang menyuruhku." tukas Ron.

"Oke tak apa, kau benar aku yg menyuruhmu."

"Kenapa Hermione kau tampak aneh, apa dunia muggle membuatmu gila? Rambutmu indah, lurus kau cantik dengan rambutmu tapi tidak dengan baju itu." Harry menyahut pembicaraan.

"Tunggu,, tunggu ini memang aneh tapi kau?? Aku ini Emma, bukan Hermione. Aku tak percaya dunia sihir ini benar-benar ada. Aku kira ini hanya sebuah film di dunia manusia tanpa sihir yang aku perankan bersama Daniel dan Rupert. Dan kalian, kalian benar-benar mirip dengan mereka." Emma menjelaskan panjang lebar. Hal ini makin membuat Ron dan Harry bingung.

"Siapa mereka? Daniel dan Rupert, ayolah Hermione apa kau gila? Oo jangan-jangan kau terkena kutukan imperio." Harry membalas penjelasan Emma dengan tak serius.

"Dia sedang gila Harry. Lihat saja baju panjangnya yang ketat itu, dia mau kemana?" Ron mendekat ke telinga Harry dan berbisik.

Harry dan Ron tetap berdiri memandangi Emma dengan tetap menunjukkan wajah aneh mereka. Namun tiba-tiba seorang perempuan berambut ikal sedang menggendong seekor kucing berlari menuju ke tempat Harry, Ron dan Emma berdiri.

"Huffft, hai Ron, hai Harry. Aku benar-benar merindukan kalian." Gadis itu menyapa Harry dan Ron dengan masih terengah-engah. Reaksi berbeda muncul dari Harry dan Ron. Harry berteriak dengan kerasnya "Ow,WHaaaaaattt??" sampai semua orang yang berlalu lalang disekitarnya menoleh. Sedangkan Ron, dia membuka mulutnya lebar-lebar dan menganga nyaris tanpa ekspresi apapun.


"Sudah aku jelaskan tadi. Aku saja heran apalagi kalian." Tukas Emma pada mereka berdua hingga menyadarkan Ron yg sedang membuka lebar mulutnya itu, kemudian cepat-cepat ia tutup.

Hermione juga tidak kalah terkejut saat melihat Emma karena dia seperti berdiri di depan cermin, hanya saja dengan gaya rambut yang berbeda tentunya. Hermione memegang-megang wajahnya sendiri seolah tak percaya, sembari mengambil tongkat dari jubahnya dan mengacungkan tongkat tersebut ke muka Emma. Namun segera saja Harry menghentikan hal yg dilakukan Hermione.

"Tenang Hermione, dia tadi sempat menjelaskan sesuatu pada kami." bisik Harry ke Hermione. Hermione menatap Harry dan perlahan ia memasukkan tongkatnya kembali ke saku bajunya.

"Sebenarnya siapa kau? Kau...kenapa bisa mirip dengan Hermione, apakah kau muggle? Oo tapi ini benar-benar tidak masuk akal." Harry terus bertanya pada Emma dengan seribu pertanyaan dan rasa penasarannya.

"Jangan...jangan dia Death Eater utusan You-Know-Who yang melakukan hal ini." Sekali lagi Ron berbisik pada Harry dengan sok tau.

"Jangan sembarangan kau Ron, Voldemort tak akan mungkin melakukan hal konyol seperti ini." Hermione mendengar bisikan Ron pada Harry dan menjawab dengan sinis.

TUUTT,,,,TUUUTTT,,,TUUUTT,

Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan kereta bernomor 5972 tujuan Hogwarts berbunyi dan menandakan bahwa kereta itu akan segera melaju meninggalkan Stasiun King's Cross.

"Hei ayolah teman-teman, kereta segera berangkat, kita jelaskan ini di dalam dan kau..."

"Emma, aku Emma Watson." Emma memotong perkataan Harry.

"okke Emma, kau ikut dengan kami." lanjut Harry berkata dengan terburu-buru serta dengan rasa penasarannya sambil mengeluarkan jubah gaib miliknya dan seraya memberikan pada Emma. Harry memperlakukan Emma seolah ia adalah sahabatnya, Hermione, karena wajah mereka yg memang tak ada bedanya.

"Pakai ini! Kemudian ikuti kami di belakang. Jangan sampai kau pergi dari kami. Jubah ini akan membuatmu Tak terlihat." tukas Harry.

"Tentu aku tau, aku dan Daniel sering memakainya, tapi milik kami tidak benar-benar bisa membuat menghilang."

“Ah aku tak tau siapa yang kau maksud, siapa itu Daniel, ayolah kita segera jalan.” pungkas Ron. Mereka berempat berjalan menuju kereta, dengan keadaan Emma yang tidak terlihat.

Sampai di dalam kereta mereka berempat duduk. Emma berada di sebelah Hermione dan Ron bersebelahan dengan Harry. Hermione segera duduk dan melepaskan kucingnya dari gendongan, sedangkan Emma langsung membuka sedikit  jubah yang dipakainya di bagian kepala saja, bermaksud supaya saat ada murid yg datang Emma bisa langsung menyembunyikan kepalanya di balik jubah itu.

"Okke, sekarang jelaskan pada kami siapa kau, kau seperti saudara kembar Hermione saja, mengapa bisa kau sampai disini dan ceritamu sedikit tidak masuk akal." Harry melontarkan pertanyaan beruntun pada Emma yang sedikit bingung mendengar semua pertanyaan itu.

"Aku juga tak tau, tiba-tiba saja aku sampai disini. Aku di Prancis sebelumnya, aku ini seorang aktris pemeran Hermione Granger di duniaku. Ron mirip dengan temanku, Rupert, bahkan tak ada bedanya. Dan Harry mirip dengan Daniel, temanku jg, bedanya dia tak memakai kaca mata saja. Hubungan pertemanan kami sama persis dengan kalian bertiga, hanya saja kami ini manusia biasa tak punya sihir. Aku berani bersumpah aku tak berbohong dengan hal ini, Aku kira ini mimpi tapi ternyata bukan." Jelas emma panjang lebar. Ron, Harry dan Hermione memperhatikan penjelasan Emma itu dengan sungguh-sungguh.
"Haha, itu benar-benar konyol dan tidak masuk akal bahkan di dunia sihir ini." Timpal Hermione sambil membuka buku bacannya. Emma tak memperdulikan timpalan Hermione, dia malah sibuk memperhatikan Ron yang sedang memakan coklat kodok dengan lahapnya. Dan dia tidak heran melihat itu, karena dia telah terbiasa dengan peran Rupert di dunia muggle sebagai Ron Weasley.

"Aneh, berarti kita semua yang ada di dunia sihir ini memiliki masing masing orang yang mirip dengan kita, Harry. Seperti aku dan Emma. Dengan kata lain kita punya orang yang kembar dengan kita di luar dunia sihir ini. Apakah kau sadar, Harry??" Hermione menutup bukunya dan menjelaskan dengan girang setelah ia menyadarinya. Kali ini Emma telah berpaling dari Ron dan memperhatikan Hermione dengan sungguh-sungguh.

"Tapi ini tak pernah masuk akal, Mione." Harry membantah.

"Sekali lg, aku tak tau, benar-benar tak tau. Aku hanya memerankan kalian di dunia muggle di film Harry Potter cerita yg dibuat oleh J.K Rowling seorang penulis terkenal." jelas Emma lagi.

"Ufft, apa itu film." Tanya Ron memasang tampangnya bodohnya.

"Huuh, tontonan muggle, Ronn." Hermione menggertak Ron hingga Ron harus menyenderkan kepalanya ke kursi karena takut dengan gertakan Hermione.

"Pertama, tiba-tiba saja aku sampai ke peron 9 ¾ . Dan aku tak tau apa yg menyebabkan hal itu bisa terjadi."

"Bisakah kau jelaskan awal mula sampai kau tiba di peron 9 3/4?" Harry bertanya untuk memastikan agar dia semakin percaya dengan Emma.

"Okay, semula aku tenggelam di kolam renang di rumahku, kira-kira setelah 5 menit tiba-tiba aku merasa berpindah dan seperti mati rasa. Hm..aku seperti melompat saja dari tempat itu. Tapi aku tidak dapat pungkiri aku senang bertemu kalian dan dunia ini." Begitulah Emma meyakinkan Harry walaupun tetap juga terdengar tidak masuk akal.

"Bahkan aku tau semua tentang Hogwart, itu sekolah kalian bukan? Ini benar-benar mirip dengan film Harry Potter."

"Harry, nampaknya aku tadi dengar namamu jadi judul film di dunia muggle, hahaha." Ron berkata dengan candanya.

"Diamlah, Ron." Hermione sekali lagi menggertak Ron.

"Aku sendiri juga masih benar-benar bingung, sama seperti kalian. Kenapa kalian benar-benar ada. Ini benar-benar luar biasa. Jadi kesimpulannya sama seperti Hermione tadi, kita punya masing-masing twin tapi di dunia yang berbeda." Emma kembali mengulang penjelasan Hermione td. Harry, Ron dan Hermione masih memperhatikan Emma dengan rasa penasaran mereka yang mungkin masih ada.

"Okay, kami sudah agak mengerti tapi aku masih heran, Bagaimana bisa kau mirip Hermione, aku tdk bisa menuduh kau meminum Polyjus begitu saja. Karena penjelasanmu sangat meyakinkan walaupun masih tak masuk akal." Kata Harry tetap serius.

"Aku tidak tau Harry, yang pasti aku ini Emma Watson adalah muggle yang paling beruntung bisa berada di dunia sihir yg benar nenar nyata dan bisa bertemu dengan kalian bertiga. Sayangnya aku harus segera pergi. Mom dan Dad pasti sudah kebingungan mencariku. Aku berjanji tidak akan pernah mengatakan ini semua pada muggle lain. Tenanglah kalian, aku dapat dipercaya. Dan tak perlu panjang lebar, mungkin juga keluargaku sudah mengira aku mati. Ohh, tapi bolehkah aku meminta ini." Emma berkata pada mereka bertiga sambil merampas coklat kodok milik Ron. Sebenarnya saat itu Emma masih ragu apakah dia bisa kembali ke rumahnya atau tidak.

"Ta...ta...pi...iiii." belum sempat Harry berkata, tiba-tiba Emma sudah meninggalkan tempat duduk di kereta. Dan jubah gaib milik Harry terjatuh. Emma dengan susah payah dan sekuat tenaganya membawa tubuhnya berpindah dari kereta itu, walaupun dia benar-benar ragu dengan kemampuannya itu.
"Woww, hebat. Seperti mantra Apparate tapi aku tau Emma pasti belum 17 tahun. Aku kira dia masih seumuran dengan kita." Hermione kagum, dia katakan itu pada Harry dan Ron. Dalam perjalanan ke Hogwarts mereka tetap saja berdebat tentang Emma.

--oOo--oOo--oOo--oOo--oOo--

BRUUUK…

Emma terjatuh di atas kasur di kamarnya. Dia memandang sekeliling kamarnya dengam keadaan pakaian yang sudah agak mengering. Dia duduk di tempat tidur, memandang coklat lodok yang dia rampas dari Ron tadi. Emma tersenyum sendiri di kamarnya dan segera saja Emma memasukkan coklat rampasan itu ke dalam sela-sela bajunya yang semacam kantong, kemudian Emma merebahkan diri ke tempat tidur tanpa pikir panjang karena rasa lelah yang  sudah terasa. Ada satu hal yang telah Emma lupakan, namun Emma segera menyadarinya.

"Bagaimana bisa mereka benar-benar ada dan kemampuan itu??? Apa itu benar-benar ada??" Emma bertanya pada dirinya sendiri.

"Dunia sihir saja benar-benar ada, bahkan Hermione saja mirip denganku, Hogwarts, Ron, Harry. Semua itu bukan fiktif, berarti Jumper, ini benar-benar ada dan ini benar-benar kemampuanku??." Emma berusaha membenarkan dan meyakinkan dirinya sendiri.

"Owh, aku benar-benar orang paling beruntung, ini luar biasa tapi jika aku seorang pelompat seperti di film itu, tentu ada ksatria musuh dari pelompat yang benar-benar ada dan pelompat itu aku. Ini luar biasa tapi aku tak ingin mengambil resiko." Emma memuji dirinya sendiri seraya mengeluh.

Tiba-tiba suara tangisan terdengar di telinga Emma. Dia keluar dari kamar dan melihat  ayah dan ibunya sedang menangis menyesali sesuatu. Satu ingatan lagi terlintas di pikiran Emma.

"Oh,Tuhan. Aku tadi tenggelam." Dia menepuk jidat dan baru menyadari satu hal penting. Emma berlari menuju ruangan dimana orang tuanya berada.

"Mom!! Dad!!" Emma berteriak memanggil mereka. Ayah dan ibu Emma kaget "Bagaimana bisa sayang.??"

"Bagaaimana apa, Mom?" Namun tanpa pikir panjang ayah dan ibu Emma langsung memeluknya.

"Daddy kira kau sudah meninggalkan kami semua nak."

"Tidak Dad. Kenapa Dad berpikiran begitu."

"Tapi kau tadi tenggelam di kolam, belum sempat Mommy mu menolong tapi kau tiba-tiba saja lenyap. Ini benar-benar aneh sayang." Ayah Emma bertanya penasaran.

"Sudahlah , yang penting anak kita sudah ada di sini, aku tau ini keajaiban dari Tuhan yang diberikan kepada keluarga kita." Ibu Emma menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari ayah Emma tadi.

Emma masih saja memeluk ayah dan ibunya, ia mengambil coklat lodok dari kantongnya. Emma menatap coklat itu lagi, ia kembali tersenyum di balik pelukan ayah dan ibunya.

Malam itu Emma menggunakan kemampuannya sekali lg utk mencoba menyelinap ke Hogwarts, sekolah sihir itu. Dia hanya ingin melihat, bisa dibilang saudara kembarnya, di dunia yang lain. Malam itu trio Gryffindor sedang berbincang di ruang rekreasi, tentunya sesudah melewati peristiwa saat mereka bertemu emma yang tiba-tiba saja ada di peron 9 3/4. Emma segera menyelinap ke Hogwarts, yang tadinya dia ada di kamar tiba-tiba ia sudah berada tepat di luar pintu ruang rekreasi Gryffindor. Emma benar-benar melihat mereka bertiga. Hermione, Harry, dan Ron sedang berbincang di ruang itu.

"Harry, apa yang kau pikirkan tentang muggle yg seperti Hermione tadi? Menurutku, Emma lebih cantik dan tentunya tidak segalak.............." Belum selesai Ron berkata Hermione telah memotongnya.

"Aku maksudmu???? Apa kau buta Ron, aku itu mirip dengannya. Sebenarnya aku tidak galak, hanya saja aku ill-fill melihat kau bertingkah seperti orang bodah." Emma pun tertawa mendengar perbincangan mereka seraya mengintip tingkah merka di ruang itu.

"Hei, aku tidak bilang kau yang galak, mungkin saja aku menyebut orang lain sebelum kau potong pembbicaraan ku degan Harry." Ron berkata sambil mengernyitkan dahinya.

"Aku tahu maksudmu, RONALD." Hermione menggertak Ron untuk yang kesekian kalinya.

"Haha, Sudahlah teman-teman, tapi benar kata Ron. Setidaknya dia muggle yang dapat dipercaya dan baik, sama seperti mu, Mione." Harry menyahut dengan nada bercandanya yang juga bermaksud untuk menghentikan cekcok mulut yang sedang terjadi antara Ron dan Hermione. Di balik tembok, Emma tersenyum kembali melihat dan mendengar mereka berbincang. Karena lelahnya Emma segera kembali pulang dan segera tidur.

Keesokan paginya setelah Emma terbangun, dia merasa ingin kembali ke Hogwarts. Namun apa yang terjadi, dia tak bisa lagi. Dia tidak bisa kembali ke Hogwarts dengan kemampuannya itu. Ia mencoba memikirkannya lebih dalam,tentang peristiwa itu nyata atau hanya sebatas mimpi.

"Iya tentu saja itu hanya mimpi. Jelaslah mana mungkin?? Aku kan hanya pemeran dalam film itu?? Jumper, yeah itu pun hanya film fiktif yang sudah 7 kali aku tonton. Mana mungkin ada. Bodohh.....!!!" Emma berkata dalam hati sambil menertawai dirinya.

Tiba-tiba ibunya menyapa Emma. "Pagi sayangg, ada apa? Apakah ada masalah, kau tampak bingung."

"Tak apa Mom, Mom aku ingin bertanya, apakah kemarin aku berenang dan tenggelam??" Emma bertanya pada ibunya untuk meyakinkan dirinya sendiri.

"Memangnya kenapa sayang? Kamu kemarin kan ada syuting iklan seharian. Setelah menjelang sore kamu baru pulang, karena kamu kecapaian kamu langsung ganti baju tanpa mandi dan segera menuju ke kamar. Apa ada yang salah sayang?"

"Ohh, iya Mom aku lupa, kemarin aku terlalu capek.” Emma menjawab dengan ragu sambil menggaruk garuk kepalanya sendiri pertanda ia bingung.

Emma berlari menuju kalender dan melihatnya. Ia bergumam sambil menunjuk angka-angka dalam kalender.

"Aneh ahh, seingatku kemarin tidak ada jadwal syuting iklan, harusnya kemarin aku istirahat. Tapi, iya juga sih, jadwal syuting kan sudah hari sabtu kemarin. Sekarang hari minggu, aku baru libur. Aku yakin itu cuma mimpi."

Selesai Emma melihat kalender, dia menuju kamarnya kembali. Saat salah satu tangannya masuk ke dalam saku baju yang ia pakai, Emma menemukan sesuatu. Cepat-cepat ia mengambil barang itu dari sakunya.

"Apa ini?? Inikan coklat kodok milik Ron waktu di kereta, tapi kenapa bisa disini. Peristiwa itu kan cuma mimpi." Emma heran, namun Emma tak peduli, ia senang karena benar-benar bisa memegang coklat yang berasal dari dunia sihir itu. Emma tersenyum untuk yang ketiga kalinya karena coklat yang ia pegang itu, seraya ia berkata "I LOVE MAGIC"


--oOo--oOo-- THE END --oOo--oOo--
read more »

Jumat, 30 Maret 2012

HPC 'REACTIVE "NEW FAMILY IN HPC"

Akhirnya setelah skian lama "tertidur", HPC 'reative hari ini "bangun" lagi.. :D
HPC 'Reactive ini adalah sebuah FF atau Cerpen ttg HPC hasil dari lomba Short Story of HPC saat 1st Anniversary HPC. Lomba ini disponsori oleh Alice Longbottom Jr.
Nah inilah karya sang pemenang CORMAC MCLAGGEN.. Langsung aj ya kita baca cerita dr Cormac,, Cekidoot........

-------------------oOo-------------------oOo-------------------oOo-------------------oOo-------------------

NEW FAMILY IN HPC authored by Cormac McLaggen

“Tut Tut Tut Tut! Tut Tut Tut!” suara bunyi sms terdengar dari balik bantalku…
“Hoaamm.. Siapa sih sms pagi – pagi gini?” gumamku. Langsung saja aku ambil HP yang ada di bawah bantalku dan aku buka.
“Shilla? Ada apa ya?” langsung aku baca sms dari Shilla yang isinya ‘V1cky, bru4n d4t3n9, d4h d bk4 nieh 4udi5i.x!!!’
“Audisinya udah dibuka? Jam berapa sih sekarang?” ucapku. Lalu aku melirik jam dinding yang menempel di ujung ruang kamarku.
“What? Udah Jam 8? Aku telat!!!!” Langsung saja aku melompat menuju kamar mandi yang tak jauh dari kamarku.
Hari ini, memang ada audisi yang sangat penting yaitu audisi jadi member HPC. HPC adalah organisasi yang dikhususkan buat para fans Harry Potter. Tahun lalu aku gagal jadi member HPC karena aku lupa buat bawa koleksi Harry Potterku. Tadi malem aku udah mempersiapkan semuanya. Jadi, aku yakin kalo’ aku bakal lolos. Tahun ini HPC ngadain audisinya yang ke 5. Dan salah satu syarat utama pendaftaran yaitu umur minimal 14 tahun dan Maksimal 17 tahun. Tahun ini aku berumur 15 tahun. Udah setahun ini aku mempersiapkan diri  Aku berharap banget jadi member di HPC. Soalnya orang – orang yang kepilih jadi member HPC akan ditempatkan di asrama yang bagus banget di sebuah pulau yang tidak diketahui orang lain selain member HPC. Walau denger – denger gak sebagus Hogwart, HPC menjadi organisasi yang di idam – idamkan banyak orang karena menyediakan banyak fasilitas dan semua itu gratis. Ya Allah, semoga aku bisa masuk di HPC.

*************************************

“Shilla!” sapaku dari sampingnya.
“Hei Vick! Lama amat?” jawab Shilla.
“Hehe. Telat nih aku. Ngomong – ngomong hasilmu gimana?” tanyaku.
“Aku keterima donk! Aku orang ke 5 yang diterima loh!” ucap Shilla
“Wow. Hebat kamu!” pujiku.
“Ya iya lah, aku kan cantik!” balasnya.
“Huuuu” jawabku. “Iya sih kamu emang cantik” ucapku dalam hati.
“Udah gih! Buruan masuk denger – denger kurang dua orang lagi yang mau diterima!” ucap Shilla
“Oke deh! Do’ain aku ya!” jawabku.
Langsung saja aku pergi menuju ruang audisi. Ada dua ruangan buat audisi. Aku memilih ruangan yang bertirai biru karena itu adalah warna favoritku hehehe. Aku duduk di kursi tunggu di depan ruangan itu!
“Peserta selanjutnya!” ucap mbak – mbak penjaga di depan ruangan itu. Langsung saja aku memasuki ruangan itu.
“Selamat datang! Perkenalkan nama kamu!” ucap juri wanita HPC yang kelihatannya berumur 25 tahunan itu.
“Nama saya Vicky” ucapku
“Bukan Vicky Shu kan?” canda juri itu
“Bukan! Saya Vicky Putra Abadi” jawabku singkat.
“Oh. Coba tunjukkan koleksi Harry Potter kamu!” ucap juri itu.
Aku mengeluarkan beberapa koleksi Harry Potterku. Seperti poster, kaos, kelas, piring, pin, gantungan kunci, foto, casing HP, casing laptop, dan tas yang ku bawa ini.
“Wow. Banyak juga ya koleksi kamu!” komentarnya.
Aku hanya bisa berkata terima kasih dan tersenyum.
“Oiya, ada lagi! Ini dia” aku melepas sepatuku dan menunjukkan kaos kakiku yang bergambar Harry Potter itu.
“Apakah kamu bisa menyanyi? Coba kamu menyanyi!” kata juri itu.
“Kok menyanyi?” gumamku dalam hati. “Baiklah!” Ucapku.

“  I Dream High nan kkumeul kkujyo
Hindeul ttaemyeon nan nuneul gamgo
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ireonajyo
Duryeoumeui kkeuteseo nan
Oneuldo heundeullijyo
Tteorejilkka bwa naraoreuji mothaneun
Eorin saecheoreom
Jakku naega hal su inna
Nae kkumi irweojilkka
Naeditneun georeum han georeum georeumi dashi
Duryeoweo jil ttaemada
I Dream High nan kkumeul kkujyo
Himdeul ttaemyeon nan nuneul gamgo
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ireonajyo
I can fly high naneun mideoyo
Eonjenganeun jeo haneulwiro
Nalgaereul pyeogo nugubodado
Jayurobge nopi nara oreul geoeyo
Neomeojin nal ireukkyeo jul
Yonggiga phiryohajyo”

Aku pun menyanyikan sebuah lagu korea yang berjudul Dream High. Akhir laguku itu di akhiri dengan tepuk tangan oleh juri itu.

“Kenapa kamu nyanyiin lagu itu?” Tanya juri itu.
“Karena saya punya mimpi. Dan mimpi saya adalah masuk menjadi member HPC.” Jawabku
“Kenapa kamu ingin menjadi member HPC?” Tanya juri itu lagi
”Saya ingin menambah pengetahuan dan pengalaman.” Jawabku.
Setelah aku menjawab pertanyaannya, juri itu sepertinya berpikir sesaat. Dan….
“Baik. Vicky… Kamu kami terima menjadi anggota HPC” ucapnya
“Sungguh? Terima kasih mbak!” ucapku seraya mengambil tiket emas yang ia berikan kepadaku.
Kemudian aku keluar dari nruangan itu. Terlihat Shilla sedang menunggu sambil berharap – harap cemas. Aku mau memberinya kejutan. Aku menyembunyikan tiketku di belakang badanku kemudian menuju ke tempat Shilla sambil menunjukkan wajah yang cemberut.
“Gimana hasilnya?” Tanya Shilla.
“ehm… tara… aku diterima Shil” jawabku seraya menunjukkan tiket yang ku dapat barusan. Spontan si Shilla ini memeluk tubuhku. Waw kesempatan he he he…
“Maaf Vick, reflek” jawab Shilla dengan wajahnya yang mulai merah.
“Gak papa kok” balasku. “Kenapa gak di terusin aja sih?” gumamku dalam hati.
“Perhatian, Perhatian. Bagi seluruh peserta yang diterima di HPC sekarang harap berkumpul di Aula” terdengar suara dari speaker gedung itu.
“Yuk ke aula!” ajakku
“Ayo!” jawab Shilla singkat.
Kami pun segera menuju aula. Disana hanya terlihat beberapa anak. Sepertinya 8 orang anak. Ditambah kami berdua jadi sepuluh orang. Kemudian kami duduk di kursi yang telah dipersiapkan panitia.
“Selamat, kalian telah terpilih menjadi member HPC angkatan ke 5.” Ucap salah satu panitia yang berdiri di depan kami.
“Baik, 3 hari lagi kalian akan berangkat bersama peserta lain dari 2 kota lainnya. Kalian semua harus mempersiapkan diri kalian dengan baik. Persiapkan semua hal – hal yang kalian butuhkan. Nanti kita semua berkumpul di Bandara Juanda pukul 7 pagi. Jangan sampai terlambat. Apakah ada yang kurang jelas?” ucap panitia itu.
“Bolehkah kita membawa peliharaan?” Tanya sesorang peserta dengan logat jawanya yang sangat kental.
“Ehm, sebelumnya maaf. Kalian tidak dianjurkan untuk membawa peliharaan dari rumah.” Jawab panitia itu.
“Kemana kita akan pergi?” Tanya anak itu lagi.
“Ini masih dirahasiakan. Kalian nanti pasti akan tahu. Baik, apa ada lagi?” Tanya panitia itu.
“Tidaaakkk…” jawab kami serentak.

*****************************

Hari yang aku tunggu akhirnya tiba. Aku udah mempersiapkan kebutuhannku jauh – jauh hari. Mulai dari baju, sepatu, perlengkapan mandi, alat tulis, HP, Kamera, dan masih banyak lagi. Papa dan Mama pun nemenin aku nganter sampai bandara. Banyak banget member baru yang diantar orang tua mereka. Semua peserta dari kota lain datang ke sini. Sekitar 30 keluarga hadir di sini. Ramai sekali.
“Tung Ting Ting Tung. Pesawat untuk member HPC akan segera berangkat. Plane for HPC’s member ready for take off.”
“Pa, Ma, aku berangkat dulu ya..” jawabku dengan sedih.
“Iya sayang, hati – hati di sana ya” kata mama sambil memelukku.
“Jaga dirimu baik - baik, jagoan!” kata papa.
“Siap Pa!” balasku. Akhirnya aku pergi meninggalkan mama dan papa.
“Hey Vick!” sapa Shilla.
“Hey! Nanti duduk sama aku ya!” ucapku
“Sippp.” Jawabnya
Kami pun segera menuju loket. Disana kami sudah ditunggu panitia HPC. Mereka memberi kami tiket dengan nomor yang berurutan. Jadi kami bisa duduk bersama. Setelah kami mengambil tiket, kami menuju pesawat dan mencari nomor tempat duduk kami. Setelah ketemu akhirnya kami berdua duduk berdampingan.
“Eh Shil?”
“Ya?”
“Tau gak kita mau di bawa ke mana?” tanyaku.
“Gak tau”. Jawabnya
“Hai kenalin, nama aku Rara, dari Bandung.” Sapa seseorang berambut gelombang.
“Hai, aku Nini dari Bali.” Kata seseorang di sebelahnya.
“Aku Vicky, dari Surabaya” jawabku seraya menjabat tangan mereka.
“Aku Shilla, Surabaya juga J” kata Shilla sambil berjabat tangan.
“Kita ke sana dulu ya!” kata Nini.
“Oke..” balas Shilla.
Banyak sekali anak baru yang berkenalan dengan kami. Sepertinya mereka baik – baik. Semoga dugaanku benar.

****************************

Setelah kurang lebih 1 jam akhirnya kami sampai. Setelah aku bertanya kepada temen – temen yang lain ternyata kami dibawa ke sebuah pulau buatan di utara benua Australia. Sebuah pulau kecil tapi terlihat indah. Setelah turun, kami dibawa menuju ke asrama menggunakan bus besar. Terlihat pemandangan di sekitar sangat indah.
Setelah beberapa saat kami sampai di sebuah bangunan yang indah. Cukup besar walau tidak sebesar Hogwart yang ku tonton di film – film.
“Welcome to HPC. Disini kalian akan dibagi sesuai asrama yang akan menjadi tempat kalian nanti. Dan mulai sekarang kalian akan diberi nama sesuai nama yang ada di Film Harry Potter. Kalian akan menerima amplop yang berisi nama dan asrama kalian.” Ucap seseorang yang katanya Headmaster itu. Dia mengaku namanya disini adalah James Potter.
Setelah antri berbaris akhirnya kami menerima amplop. Aku membuka amplopku dan bertuliskan “Your Name : Cormac McLaggen and Your Dormitory is Gryffindor”

*****************************

Hari pertama di HPC sangat menyenangkan. Aku satu asrama dengan teman – teman yang asyik. Aku mendapatkan beberapa teman baru, ada yang bernama Harry Potter, Collin, Falco(nah), Rowena, Cho Cang, dan masih banyak lagi. Aku juga bertemu dengan Rara yang aku temui di pesawat tadi. Dia mendapatkan nama yang bagus, yaitu Luna Lovegood. Aku juga berkenalan dengan senior – seniorku yang berusia antara 15 – 20 tahunan di asrama Gryffindor ini. Di Asrama ini kami bertemu dengan kepala asrama yang ternyata adalah seseorang yang ku lihat beberapa hari sebelumnya. Ya, dia adalah Prof. Lily Potter yang menjadi juri saat aku mengikuti audisi. Sayangnya Shilla masuk Ravenclaw, jadinya tidak bisa selalu bertemu dengannya. Dia mendapat Nama yang unik. Yang sepertinya tidak pernah kudengar di film Harry potter.  Gloria Spicy itulah namanya :D
Hari pertama kami diajak berjalan – jalan oleh masing – masing kepala asrama dan beberapa senior berkeliling pulau mungil ini. Kami melihat perkebunan, shopping center, pantai, dan masih banyak lagi.
Di saat berjalan - jalan kami mulai mengerti kalau disini kami diberikan pelajaran tentang hal – yang ada di Harry Potter dan pelajaran sekolah sesuai tingkatan kami dulu. Seperti SMP, SMA bahkan perguruan tinggi. Pelajaran sekolah ini sangat penting karena bisa kami gunakan saat lulus sekitar 7 tahun lagi dari sini nanti, apabila kami bekerja. Kami diberikan libur seperti biasanya yaitu saat lebaran dan setiap semester.
Saat berjalan-jalan sendirian di koridor, aku selalu bersyukur pada Allah karena aku bisa diterima menjadi member HPC ini.
“Ya Allah, terimakasih karena aku bisa masuk organisasi yang aku inginkan selama ini. Semoga aku bisa betah disini dan semakin akrab dengan teman – teman baru ku” doaku dalam hati.
“Baiklah anak – anak, karena sudah hampir sore, kita harus segera kembali ke asrama. Karena malam ini ada upacara penyambutan untuk kalian semua.” Ucap kepala asrama kami.
Akhirnya kami semua bergegas kembali menuju asrama untuk mempersiapkan diri untuk acara malam ini.
Sekali lagi aku sangat bersyukur kepada Allah. Aku bertemu dengan teman – teman yang menyenangkan, guru yang menyenangkan dan berada tempat yang menyenangkan. Aku menemukan keluarga baru disini. Keluarga besar HPC. Semoga aku dan teman – teman lain bisa bahagia selama disini sampai 7 tahun lagi.

~The End~
read more »

Rabu, 18 Mei 2011

White Chocolate

Title: White Chocolate
Author: Hermione Granger (Felicia Rena)


Hermione Granger terbangun pagi ini di kamarnya dan menemukan bungkusan tidak dikenal berada di tempat tidurnya. Bungkusan itu berbentuk persegi panjang dan dibungkus dengan kertas kado berwarna perak.

Hermione mengambil bungkusan itu dan memeriksanya. Tidak ada nama pengirimnya. Cukup mencurigakan, pikir Hermione. Siapa yang mau repot-repot mengiriminya kado diluar hari ulangtahunnya atau hari spesial?

Kemudian dia merobek bungkusnya yang berwarna perak sehingga dia bisa melihat apa isinya. Matanya sedikit terbelalak melihat sekotak cokelat terjatuh saat bungkusnya dirobek. Tidak ada kartu juga di dalamnya. Hermione membuka kotak cokelat itu dan menemukan bola-bola cokelat berwarna putih sebanyak 12 butir siap untuk dimakan.

Sayang—Hermione tidak terlalu suka cokelat. Jadi, Hermione meletakkan kotak cokelat itu di atas meja disamping tempat tidurnya. Saat itulah dia melihat ada tiga kata tercetak di pinggir kotak cokelatnya.

Happy White Day

“White Day?”

Hermione sedikit mengernyitkan dahinya. Kenapa ada orang yang mau repot-repot mengiriminya cokelat white day? Tanpa kartu nama pula. Aneh.

“Oke. Mungkin aku terlalu banyak curiga. Lebih baik aku mandi sekarang,” gumam Hermione.

Kemudian Hermione mengambil peralatan mandinya dan segera turun dari kamarnya di asrama Ketua Murid. Sesampainya di ruang rekreasi, dilihatnya sang ketua murid putra sedang menatapnya sambil menyeringai.

“Mencariku, Granger?” Tanya si pirang itu.

Hermione mengangkat kedua alisnya. “Untuk apa aku mencarimu, Malfoy?”

Seringai yang tertempel di wajah Draco Malfoy memudar secara perlahan. Kernyitan kecil muncul di antara kedua alisnya.

“Kau yakin tidak merasakan sesuatu yang aneh, Granger?” Tanyanya.

“Tidak, Malfoy. Dan apa maksudmu bertanya seperti itu?” Hermione balik bertanya.

“Tidak. Kurasa— tidak ada,” jawab Draco akhirnya.

“Kalau begitu jangan membuang waktuku, Malfoy,” ujar Hermione sambil berjalan meninggalkan pemuda itu.

Draco Malfoy masih terbengong ditempatnya. Apa yang salah?

.
.

“Hei, Hermione! Bolehkah nanti sebelum latihan Quidditch, kami mengunjungimu di ruang rekreasimu? Kami ingin bertanya PR padamu,” ujar Harry saat makan siang. Kami yang dimaksudkannya tentu saja dia dan Ron.

“Tentu saja boleh, Harry. Aku akan senang sekali bisa membantu kalian. Asal kalian tidak meminta untuk mencontek pekerjaanku saja,” jawab Hermione.

“Tentu tidak, Mione,” kata Harry sambil sedikit menyenggol Ron yang baru saja membuka mulutnya.

Hermione menatap tajam pada Ron. “Aku harap kau bisa lebih rajin lagi, Ron. Sebentar lagi kita akan menghadapi ujian dan kuharap kau juga lulus dengan nilai bagus.”

“Dengarkan Hermione, Ron,” timpal Ginny. “Aku sudah muak menghadapi kemalasannya, Mione. Bagus kalau kau nasehati dia.”

Ron mendelik pada Ginny. “Bwakhu dwdwakh mwlwz.”

Harry dan Ginny tertawa geli melihat ekspresi Ron sementara Hermione menatap jijik pada Ron.

“Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Ron,” goda Ginny.

“Aku tidak malas!” Seru Ron setelah berhasil menelan semua makanan di dalam mulutnya.

“Hanya tukang makan,” sindir Ginny.

“Uh-oh,” keluh Harry yang sudah menangkan bahwa akan segera terjadi perang saudara.

Hermione memutar bola matanya dan membuka buku tebalnya di atas meja. Hermione mulai membaca bukunya sambil sesekali menyuapkan sesendok sup kedalam mulutnya. Sementara itu Harry hanya bisa nyengir karena dia duduk di tengah dua saudara yang sedang beradu mulut.

.
.

DOK.. DOK.. DOK..

Suara ketukan di jendela kamarnya memberitahu Hermione bahwa kedua sahabatnya sudah datang sesuai dengan perjanjian mereka tadi siang sebelum terjadi insiden perang- lempar- tulang- ayam- antar- dua- Weasley- bersaudara. George dan almarhum Fred pasti sangat bangga pada mereka—membuat keributan saat makan siang.

Hermione menghela napasnya sambil berjalan menuju jendela kamarnya. Entah mengapa, kedua sahabatnya ini memiliki kebiasaan aneh. Mereka berdua lebih suka terbang tinggi-tinggi untuk bisa mencapai kamar Hermione daripada menggunakan cara normal seperti melewati lubang lukisan. Padahal Hermione sudah memberitahukan kata kuncinya kepada mereka berdua.

Begitu Hermione membuka jendelanya, dua sapu terbang langsung meluncur masuk ke dalam kamarnya dan mendaratkan masing-masing pengemudinya.

“Bisakah kalian mengunjungiku dengan cara yang normal?” Tanya Hermione galak.

“Well—Ini cara yang normal bagi kami, Mione,” ujar Ron.

“Oke. Terserah kalianlah kalau begitu,” kata Hermione sambil menghela napas lagi.

“Jadi? PR apa yang membuat kalian repot-repot terbang setinggi ini?” Tanya Hermione dengan nada menyindir.

“Err—ramuan—“ jawab Harry.

“Bukankah dua tahun yang lalu kau sangat pintar dalam ramuan, Harry?” Sindir Hermione sambil mengangkat kedua alisnya. Gadis itu masih saja merasa tidak terima jika mengingat kekalahannya dari Harry di setiap pelajaran ramuan pada saat mereka kelas enam.

“Euh—“ keluh Harry. “bisakah kau tidak mengingatkanku pada itu lagi, Mione?”

Hermione menghela napas dan mengangguk melihat ekspresi keruh di wajah Harry. “Oke. Oke.”

“Hei! Ron! Apa yang kau makan?” Seru Hermione melihat Ron sudah sibuk makan dari satu kotak yang ada ditangan pemuda berambut merah itu.

“Bhuogwat,” jawab Ron dengan mulut penuh.

Hermione dan Harry menatap sahabat mereka itu dengan jijik. Mulut Ron belepotan dengan cokelat, dan Hermione tahu, Ron baru saja memakan cokelat-entah-dari-siapa yang dia dapat tadi pagi dan diletakkan begitu saja di meja sebelah tempat tidurnya.

Entah apa yang membuat Hermione dan Harry melupakan sekelilingnya dan justru mengawasi Ron menghabiskan sekotak cokelat itu. Hermione dan Harry membelalakkan mata mereka ketika tiba-tiba Ron menjatuhkan kotak cokelatnya. Harry seperti mengalami de ja vu.

“Draco,” desah Ron dengan suara super lembut. Kedua matanya tampak sayu.

“Err—Ron?” Panggil Harry. “kau tidak apa-apa?”

“Ah—Harry. Aku—aku—sepertinya aku sakit, Harry,” jawab Ron sambil menjatuhkan dirinya duduk di atas tempat tidur Hermione.

Harry dan Hermione saling pandang dengan cemas dan was-was—terutama Harry.

“Aku sakit cinta, Harry,” kata Ron lagi sambil cekikikan seperti anak perempuan.

Mulut Hermione terbuka lebar sekali melihat Ron. Sementara Harry menepukkan tangan ke dahinya. Terjadi lagi

“Darimana cokelat itu, Hermione?” Tanya Harry—mengabaikan Ron yang terus mengikik dan mendesahkan nama seseorang.

“Aku tidak tahu, Harry. Seseorang mengirimkannya padaku,” jawab Hermione.

Siapa yang mengirimkannya padamu?” Tanya Harry lagi.

“Aku—aku sungguh-sungguh tidak tahu, Harry. Cokelat itu sudah ada di atas  tempat tidurku ketika aku bangun tadi pagi,” kata Hermione dengan bingung.

“Malfoy—“ geram Harry.

“Kau bilang siapa tadi, Harry?” Tanya Ron. Dalam sekejap dia sudah berdiri di sebelah Harry dan menatapnya dengan penuh harap. “Siapa?”

“Err—Mal—foy?”

“Malfoy? Dimana dia, Harry? Aku harus bertemu dengannya—harus! Oh—bagaimana penampilanku sekarang, Mione?” Seru Ron dengan mata yang berubah menjadi berbinar-binar.

“Ap— err— oke?” Hermione bingung harus menjawab apa.

“Oke? Cuma OKE?” Sergah Ron dengan panik.

“Tidak! Tidak cukup cuma oke! Aku harus tampak keren—tampan! Oh—tidak!” Gumam Ron dengan panik sambil berjalan kesana-kemari. Ron menyambar sisir milik Hermione di atas meja dan mulai menyisiri rambut merahnya yang mulai gondrong sambil terus membisikkan, “Aku harus tampil keren.”

Hermione menatap Harry dengan bingung. Harry meringis karena menyadari satu hal. Dan lagi-lagi Ron-lah yang mengalaminya. Lagi-lagi si pemuda bungsu Weasley itu menelan ramuan cinta—Amortentia.

“Kita harus membawanya ke Slughorn, Hermione. Kecuali kau punya penangkalnya,” gumam Harry.

“Apa? Tapi—ada apa sebenarnya dengan Ron?” Tanya Hermione bingung. Dia melirik Ron yang sekarang mengobrak-abrik lemari bajunya dan mengeluarkan jubah-jubah Hermione dan bergumam sendiri mana yang pantas dipakainya. Hermione bergidik melihatnya.

“Tidakkah kau menyadari sesuatu, Hermione?”

Hermione mengerutkan keningnya—berpikir keras. Cokelat itu—Ron yang menjadi aneh setelah memakannya—Nama Draco Malfoy yang terus di gumamkan Ron—Sikap-sikap anehnya. Bola mata Hermione melebar penuh pemahaman dan kengerian—bahwa bisa saja dia yang bersikap aneh seperti itu.

“Ramuan cinta!” Seru Hermione. “Malf—“

Harry mendekap mulut Hermione sebelum gadis itu menyelesaikan kata-katanya.

“Jangan panggil nama itu di depan Ron!” Desis Harry di telinga Hermione. Hermione mengangguk.

“Kita harus segera membawanya ke Slughorn. Dan usahakan jangan sampai kita bertemu dengan Malfoy. Bisa gawat nanti,” kata Harry dengan suara pelan.

“Kita akan bertemu Draco?” Tanya Ron penuh semangat. Hermione memekik pelan karena kehadiran Ron yang sangat tiba-tiba.

“Err—err—oh—ya! Ya—kita akan mengantarmu bertemu Draco, Ron. Dia—dia ada—di ruangan Slughorn!” Kata Harry—menggunakan strategi yang sama yang digunakannya saat Ron menelan ramuan cinta dari Romilda Vane untuk Harry dulu.

Ron mengerutkan keningnya, “Untuk apa dia berada di ruangan Slughorn?”

Harry dan Hermione kembali bertukar pandang, memikirkan alasan yang bisa digunakan.

“Maksudmu—dia—tidak!” Mata Ron melebar dengan ngeri. “mereka tidak sedang—kencan kan?”

Jika keadaannya tidak sedang seperti ini, Harry dan Hermione pastilah sudah tertawa terguling-guling membayangkan seorang Draco Malfoy kencan dengan guru gemuk nyentrik Horace Slughorn. Ditambah lagi dengan ekspresi Ron saat ini.

“Tentu tidak, Ron,” Hermione yang menjawab karena Harry sibuk menahan tawanya supaya tidak meledak.
“Dia—tadi aku melihatnya dipanggil ke ruangan Slughorn untuk—detensi,” kata Harry setelah berhasil menguasai tawanya.

“Draco di detensi?” Tanya Ron tidak percaya. Suaranya terdengar histeris. Benar-benar seperti perempuan. “Oh—kalau begitu kita harus cepat kesana! Siapa tahu saja Slughorn mengijinkanku untuk di detensi juga bersama Draco!”

Harry melotot lebar sekali. Baru kali ini dia mendengar Ronald Weasley begitu bersemangat dan bahkan mengharapkan untuk di detensi. Betapa hebatnya Amortentia!

“Ayo cepat, Harry! Hermy!” Seru Ron sambil menerobos keluar kamar Hermione.

“Jangan panggil aku Hermy, Weasley!”

.
.

“Kita harus benar-benar berhati-hati supaya tidak bertemu dengan Malfoy, Mione,” bisik Harry berulang-ulang pada Hermione sepanjang perjalanan menuju kantor Slughorn.

“Aku tahu, Harry,” desis Hermione.

Ron sudah lebih dulu mencapai kantor Slughorn dan melambai-lambaikan tangannya pada Harry dan Hermione—menyuruh mereka berdua supaya lebih cepat.

“Cepat, Harry! Hermy!” Panggil Ron dengan bersemangat.

“Jangan—“ Hermione sudah memulai menginterupsi Ron ketika Harry mengangkat tangannya—menyuruhnya berhenti.

TOK... TOK... TOK...

“Siapa?” Terdengar suara Slughorn dari dalam.

“Harry Potter, sir,” jawab Harry.

CKLEK!

Wajah bulat Slughorn muncul dari balik pintu dan langsung menyambut Harry.

“Harry—anakku! Sudah lama sekali kau tidak mengunjungiku. Dan kau juga, Miss Granger,” sapa Slughorn pada Harry dan Hermione.

Dalam keadaan normal, pastilah wajah Ron sudah tertekuk karena hanya dia yang tidak disapa oleh Slughorn, tapi sekarang si jangkung itu justru semakin menjulurkan lehernya di atas Harry dan berusaha melihat kedalam kantor Slughorn.

“Ada apa, Harry? Ada yang bisa kubantu?” Tanya Slughorn.

“Ya—ya, sir. Sebenarnya, saya membutuhkan penangkal Amortentia,” bisik Harry sementara Hermione menghalangi Ron untuk tidak menerobos masuk kedalam kantor Slughorn.

“Penangkal Amortentia, eh?” Slughorn mengerutkan keningnya.

“Ya—ya—ya, sir. Lagi-lagi Ron tanpa sengaja menelan ramuan Amortentia, sir—aauuww!”

Tanpa sengaja tangan Ron menyambar belakang kepala Harry ketika dia memberontak dari Hermione.
“Hormon yang semakin bertambah rupanya,” kekeh Slughorn. “Ramuan siapa itu?”

“Itu dari—“

“Professor, saya sudah selesai melakukan apa yang Anda suruh.”

Draco Malfoy muncul dari dalam kantor Slughorn.

Seperti ada yang menghentikan waktu, sesaat mereka semua saling pandang tanpa ada yang bersuara. Bahkan angin pun terdengar hening.

“DRACO!” Pekik Ron. Dia semakin meraung dan meronta dari pegangan Hermione—berusaha meraih Draco. Untuk memeluknya, mungkin.

Slughorn tampak terkejut. Tapi sepertinya pemahaman mulai merasuki kepalanya.

“Ada ap—“ Draco terlihat bingung.

“LARI, DRACO!” Seru Harry.

Draco yang sempat  kaget akhirnya menyadari sesuatu ketika Ron berhasil melepaskan diri dari Hermione dan berusaha menerjangnya. Draco berlari dengan cepat keluar dari kantor Slughorn. Ron segera menyusulnya.

“Sir—sir—maaf—bisakah saya meminta penangkal itu?” Tanya Hermione dengan terengah-engah sementara Harry sudah ikut berlari juga mengejar Ron dan Draco.

“Ya—ya—tentu boleh, Miss Granger,” Slughorn juga tampaknya masih kaget. Kemudian dia masuk ke dalam kantornya untuk mengambilkan penangkal Amortentia.

Hermione mendesis dalam hatinya. Dia akan memberi pelajaran pada Draco nanti. Pada si pirang yang awalnya pasti bermaksud untuk mengerjainya. Si pirang itu rupanya mau mencoba memberinya Amortentia.

.
.

“Berhenti, Draco! Jangan lari!” Kejar Ron. Draco tidak mempedulikannya dan terus berlari untuk menyelamatkan dirinya. Mereka mulai mendekat ke pusat kastil dan itu justru membuat mereka menjadi tontonan murid-murid Hogwarts lainnya.

Luna Lovegood bahkan sampai menoleh ke arah Ron dan Draco yang sedang berlari karena mendengar Ron berkata, “Jangan kabur, Draco! Aku merindukanmu! Biarkan aku memelukmu!”

Draco terus berlari. Ron juga terus berteriak, “Draco! Tunggu! Aku mencintaimu, tampan!”.

Teriakan Ron itu membuat Ginny Weasley tersedak roti bakarnya yang dia minta dari para peri-rumah di dapur. Juga membuat Lavender Brown tampak seperti baru saja terkena serangan jantung. Blaise Zabini justru terang-terangan menertawakan Draco.

“Ron!” Harry juga berlari di belakang Ron dan Draco.

“Harry, ada ap—?” Tanya Ginny ketika Harry lewat.

“Nanti!” Balas Harry.

Beberapa menit kemudian, Hermione juga lewat sambil berlari dengan napas tersengal-sengal dan mengacung-acungkan botol kecil berisi cairan bening. Ginny mengerutkan keningnya memandang Hermione. Ada apa sih?

“Harry! Penangkalnya!” Seru Hermione.

“Tunggu sebentar, Mione. Akan kutangkap Ron!”

“Cepat tangkap dia, Potter!” Raung Draco.

“AKU MENCINTAIMU, DRACO!”

Pansy Parkinson menabrak dinding di depannya. Neville menginjak tali sepatunya sampai terjatuh. Hannah Abbott menjatuhkan buku-bukunya. Dan Theodore Nott menyenandungkan lagu cinta.

“Kena kau, Draco!” Serang Ron dari belakang. Dia berhasil menangkap Draco dan memeluk Draco erat sekali sampai Draco tersedak.

Draco terus meronta dan berusaha melepaskan diri. Kau yang seorang laki-laki, dipeluk oleh sesama laki-laki juga di depan hampir seluruh murid sekolahmu yang menonton tentu bukan impianmu kan?

“Jangan pergi lagi dariku, Draco,” ucap Ron dengan lembut. Draco semakin meronta.

“Aku mencintaimu,” kata Ron lagi dengan kelembutan luar biasa.

Seluruh anak perempuan yang menonton menahan napasnya. Dan semua anak laki-laki melotot mendengarnya. Beberapa anak perempuan—di antaranya Pansy Parkinson dan Lavender Brown—bahkan jatuh pingsan. Kegegeran terjadi di Hogwarts.

“Aku mencin—“

“Ron!”

Harry segera berlari menghampiri Ron dan berusaha membantu Draco untuk emlepaskan diri dari dekapan Ron. Tapi Ron justru semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Draco tercekik.

“Ron! Kau bisa membunuhnya!”

“Ron!”

Harry sangat bersyukur karena Hermione datang dengan cepat. Hermione segera berlutut di sisi Harry dan membuka sumbat botol kecil di tangannya. Dengan cepat juga, Hermione meminumkannya pada Ron yang kepalanya di tahan oleh Harry dan mulutnya dibuka paksa.

Seteguk...

Dua teguk...

Tiga teguk...

Isi botol itu habis...

Satu detik...

Dua detik...

Tiga detik...

Pupil mata Ron melebar dengan ngeri.

“APA YANG KAU LAKUKAN, MALFOY!” Ron melompat menjauh dari Draco.

Draco merangkak menjauhi Ron. Seluruh tubuhnya terasa sakit akibat pelukan Ron yang terlalu erat. Draco terbatuk-batuk.

“Kau—yang mengejarku dan—memelukku—Weasel!” Kata Draco dengan tertahan.

“APA?”

Ron menoleh pada Harry dengan cepat untuk meminta penjelasan. Harry hanya memberi kode, ‘nanti’ dan membawa Ron dengan cepat untuk kembali ke kamar mereka di Menara Gryffindor.

Merasa tontonan mereka sudah selesai, akhirnya semua murid bubar dan kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing sambil menebak-nebak apa yang baru saja terjadi. Tinggal Hermione dan Draco yang tertinggal.

Hermione berjalan pelan mendekati Draco yang masih terbatuk-batuk  dan belum sanggup untuk bangung. Hermione berjongkok di sebelah Draco dan menatap pemuda itu.

“Kenapa kau mau mengerjaiku, Draco? Kau yang mengirim cokelat tadi pagi itu kan?” Tanya Hermione.

“Aku Cuma ingin mengerjaimu, Granger. Karena kau membuatku sakit perut karena cokelatmu Valentine lalu,” kata Draco pelan.

“Itu akibatnya kalau kau mau mengerjaiku, Malfoy!” Ujar Hermione.

“Tidak perlu menceramahiku, Granger!” Tukas Draco. “Kau mau membantuku berdiri atau tidak?”

“Bukankah kau menganggapku kuman sehingga kau tidak mau menyentuh ataupun  kusentuh?” Tanya Hermione.

Tapi Draco sudah mengalungkan lengannya di pundak Hermione dan berbisik, “ Jaman itu sudah berlalu, Granger. Sekarang kau harus membantuku!”

Hermione menggelengkan kepalanya dan membantu Draco untuk berdiri. Penampilan pemuda pucat itu sekarang tampak benar-benar berantakan. Wajahnya juga semakin pucat dan tampak shock. Hermione akan merasa kasihan padanya jika saja dia tidak ingat bahwa semula Draco berniat untuk menegrjainya.

“Senjata makan tuan, kan? Bukan begitu, Draco?” Cengir Hermione sambil terus memapah Draco sampai ke asrama mereka.

“Diam kau!” Geram Draco.
.
Fin
 .
Fic ini juga bisa ditemukan di fanfiction.net dengan nama author Felicia Rena dan judul White Chocolate.

oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
Nah, gimana pendapat kalian dr ff di atas? Bagus banget bukan? xD
Siapa lagi nih yg mau karyanya nampang di HPC 'reative ini? Langsung aja kirim karya kalian ye (ff, cerpen, puisi, pantun, dll) ke Rose Weasley (Rose Lia). Pastinya karya kalian bakal nampang nih di HPC 'reative..;D
oxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxoxo
 
Salam Admin,
Rose Weasley
read more »
Harry Potter - Golden Snitch 2